Testimoni Tubektomi

Assalamualaikum Wr Wb.

Selamat pagi TemanKB sekalian.

Akhir-akhir ini banyak sekali pertanyaan yang masuk ke blog tentangkb terkait metode kontrasepsi mantap operasi wanita atau tubektomi. Pertanyaan yang masuk cukup beragam, tapi pertanyaan yang terbanyak adalah tentang bisa tidaknya tubektomi disambung kembali.

Terkait hal tersebut, melalui artikel ini saya akan sedikit menulis ulang tubektomi. Menurut buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi terbitan BKKBN jawa barat, tubektomi adalah prosedur bedah sukarela/operasi untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan secara permanen. Tubektomi adalah proses sterilisasi dengan cara mengikat atau memotong salah satu bagian rahim, yaitu saluran telur (tuba falopii). Metode tubektomi ini adalah metode jangka panjang, bisa seumur hidup, dan merupakan metode sterilisasi supaya anda tidak lagi memiliki anak.

Terkait bisa tidaknya tubektomi disambung kembali, menurut buku dari BKKBN, saya tuliskan di sini bahwa metode ini merupakan metode kontrasepsi permanen yang tidak dapat dipulihkan kembali, kecuali dengan operasi rekanalisasi. Namun hingga saat ini belum banyak klinik atau rumah sakit yang menyediakan fasilitas untuk operasi rekanalisasi tersebut. Setahu saya, hanya di Jakarta saja yang menyediakan fasilitas rekanalisasi. Itupun lokasi persisnya saya lupa di mana.

Ilustrasi Tubektomi - meminjam gambar dari http://amiko3.files.wordpress.com/2009/09/sterilisasi-wanita1.jpg?w=300&h=176
Ilustrasi Tubektomi – meminjam gambar dari http://amiko3.files.wordpress.com/2009/09/sterilisasi-wanita1.jpg?w=300&h=176

Nah, dari beberapa komentar terkait tubektomi tersebut, ada satu komentar yang berisi testimoni terkait tubektomi. Seseorang dengan ID Ayu Axelle memberikan testimoni atas pengalamannya melakukan tubektomi, dengan resiko tidak akan punya anak lagi. Dengan keadaan yang pernah keguguran dua kali, mbak Ayu mantap memilih metode tubektomi sebagai metode kontrasepsinya. Sayapun meminta izin Mbak Ayu Axelle untuk menampilkan testimoninya dalam postingan ini.

Berikut adalah testimoni pengalaman Mbak Ayu Axelle yang ditulisnya pada kolom komentar artikel “Tentang Tubektomi”:

Siang pak, sekedar ingin sharing, saya melakukan sterilisasi dengan cara dipotong, bukan diikat. Karena ada beberapa yang diikat, terjadi kebocoran sehingga bisa hamil lagi. Pada tanggal 13 April 2015 lalu, saya ibu dari 4 orang anak usia 26 tahun, keguguran 2x, melakukan steril waktu persalinan anak ke 4 saya. Jadi sekalian dibuka, sekalian di steril.

Untuk menstruasi, tepat waktu, selalu tanggal 5 tiap bulannya. Untuk berhubungan dengan suami, tidak ada masalah, hanya terasa sakit di luka operasinya. Pada saat dilakukan pembedahan, dokternya tidak bertanya mau di ikat atau di potong, begitu selesai operasi, saya dikasih tabung kecil berisi gumpalan daging, itu apa yaa ?

(Alasan) Saya melakukan steril (karena beberapa alasan). Yang pertama kondisi fisik, karena setiap hamil Hb saya cuma 5. Kemarin pun saat operasi 5x transfusi, 3x sebelum operasi 2x sesudah operasi.  Yang kedua karena jarak ke empat anak saya dekat, anak terakhir merupakan anak ke 4, kandungan ke 6 jadi saya mantap dan yakin melakukan steril.

Karena tidak ada yang mendampingi saya saat operasi dan steril, saya tanda tangani sendiri form operasi caesar dan sterilnya. Semoga berguna sharing saya yaa. Terima kasih.”

Demikian Mbak Ayu dengan mantap memberikan testimoni.

Memang benar, kehamilan yang penuh resiko seperti itu akan membahayakan ibu dan juga anaknya. Meski usia mbak Ayu baru 26 tahun, namun dengan riwayat kehamilan seperti itu, serta jumlah anak yang lebih dari cukup, kiranya apa yang ditempuh beliau sudah merupakan sebuah tindakan yang benar. Hanya saja penandatanganan inform consent, sebaiknya atas sepengetahuan suami. Tapi semoga saja suami mbaknya mendukung ya.

Di kolom komentar lainnya, mbak  Ayu menuliskan tambahan testimoninya, sebagai berikut:

Selamat siang Pak Hadi, iya silahkan apabila ingin dijadikan testimoni. Pesan saya untuk teman teman yang ingin melakukan sterilisasi (tubektomi) Jika anda telah berani mengambil keputusan untuk steril, janganlah sekalipun terbersit untuk menyesalinya. Yang pertama, itu sudah terjadi dan tidak akan mungkin bisa kembali, contohnya jam dinding, serusak-rusaknya jam dinding dia tidak akan berjalan mundur bukan? Yang kedua, mantapkan hati yakinkan diri, berkonsultasilah dengan suami. Sebaiknya bagaimana, sebaiknya seperti apa. Cukup di ingat dalam hati dan pikiran saja, di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Terima kasih.

Terima kasih atas testimoninya, semoga menjadi ilmu dan referensi bagi TemanKB sekalian yang ingin melaksanakan Operasi Tubektomi.

Untuk temanKB lain yang ingin memberikan testimoni terkait pemakaian metode kontrasepsi lainnya, dengan senang hati saya terima.

Terima kasih dan semoga bermanfaat. (Bdg, 09112015).

Iklan

2 thoughts on “Testimoni Tubektomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s