[Spesial Review] Meniti Cahaya; Ketika Perempuan Muslimah di Negeri Orang

Assalamualaikum wr wb.

Apa kabar para pengunjung setia blog tentang kb? Blog KB ternyata hampir berulang tahun yang ke-6 ya. Tidak terasa, walaupun sempat vacum hampir dua tahun, blog ini sebentar lagi akan berulang tahun. Tidak tau kan? Saya aja baru nyadar kalo ulangtahun blog ini adalah tanggal 16 oktober. Kalo ibarat anak kecil, usia enam tahun ini udah mau masuk sekolah dasar. Masih polos, masih perlu banyak belajar. Ya, itulah blog tentangkb. Masih perlu banyak perbaikan dan perlu banyak belajar lagi untuk meningkatkan kualitasnya. Pengennya sih ada sesuatu yang istimewa untuk ulangtahun yang ke-6 ini, tapi apa daya, saya masih amatiran. Jadi saya mengistimewakan HUT tentang kb ini dengan sebuah postingan yang tidak biasanya (ngeles hahaha...).

Pada postingan kali ini, saya ingin menunaikan sebuah janji kepada salah satu sahabat saya sejak masa kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia. Saya berjanji  untuk mereview bukunya, dan mempostingnya di blog tentangkb. Jadi postingan kali ini sedikit melenceng dari tema tentang kb selama ini. Tapi tidak jadi masalah kan ya? Kan tentang kb tidak hanya berisi seputar kontrasepsi saja, tapi juga tentang keluarga. Nah postingan berikut ini sedikitnya ada kaitannya dengan keluarga karena menceritakan tentang sekumpulan perempuan yang sudah berkeluarga, yang menjalani kehidupan di luar negeri. Selamat membaca.

-HS-

Apa jadinya ketika delapan orang perempuan yang berada di berbagai belahan bumi berkumpul dalam sebuah kisah? Delapan orang perempuan yang tersebar di Perancis, Spanyol, Kuwait, Thailand, Jepang, Korea, Australia, dan Amerika Serikat berkumpul dan bercerita tentang negara-negara tersebut dalam pandangan mereka sebagai seorang muslimah. Jadinya adalah sebuah buku berjudul “Meniti Cahaya” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di pertengahan september 2015. Untuk mengetahui kehidupan di belahan dunia yang sangat luas ini ternyata bukanlah sebuah kemungkinan yang mustahil ketika membaca buku ini. Termasuk  mengetahui cita rasa dan budaya lokal ke – 8 negara yang menjadi cerita utama Meniti Cahaya ini.

Adalah Irene Dyah di Thailand, Arie Nursanti di Jepang, Alfi Prajawati Ajiejah di Perancis, Anne Hudicahyani di Spanyol, Fina Khairaty Thorpe-Willet di Korea, Indah Widiastuti di Melbourne, Maya Henny Pinontoan di Kuwait, serta Oktaviani Marvikasari di Amerika menceritakan kehidupan mereka selama tinggal di negara-negara tersebut. Cerita yang diramu secara ringan berdasarkan kacamata seorang muslimah ini akan mengantar anda menjelajah negara lain hanya melalui satu buku saja.

Tengok saja Arie yang menceritakan tentang Jepang. Negara matahari terbit yang dikenal dengan etos kerja dan kedisiplinannya tersebut, ternyata memiliki sebuah cerita yang menyentuh. Di samping etos kerja dan disiplin, ternyata empati masyarakat Jepang ini begitu tinggi. Bahkan Arie berani memberikan istilah ‘negeri non muslim yang sangat islami’. Ini karena beberapa fakta yang Arie hadapi dengan penduduk lokal Jepang yang sangat-sangat toleran terhadap orang lain.

Lama hidup di negeri matahari terbit, membuat Arie berkesempatan mengenal karakter masyarakat Jepang. Ternyata masyarakat Jepang itu memiliki keingintahuan yang tinggi. Termasuk dalam hal berbusana. Melihat gaya busana Arie yang memakai hijab, tidak sedikit masyarakat Jepang yang penasaran dengan penutup kepala yang dikenakan Arie.

“… Arie-san, apa nama penutup kepala ini? Bagaimana cara kamu mengenakannya?, itu adalah pertanyaan yang kemudian lumayan sering saya dengan dari teman-teman Jepang.” Demikian Arie menuturkan tentang masyarakat Jepang yang ternyata memiliki rasa ketertarikan dengan penutup kepala yang dikenakan muslimah.

Selain itu, toleransi masyarakat Jepang yang dirasakan Arie adalah ketika sang Ibunda yang sedang mengunjungi Arie di Tokyo, tiba-tiba mengalami sakit dan dirawat di salah satu Rumah Sakit di Jepang. Arie merasakan bahwa masyarakat Jepang ini memiliki toleransi yang tinggi dan sangat menghargai keyakinan orang lain. Para perawat dan dokter yang menangani Sang Ibu begitu menghargai upaya Arie berdoa untuk kesembuhan sang Ibunda.

“… Melihat kebiasaan saya membaca Al-Qur’an secara rutin rupanya telah membangkitkan rasa ingin tahu para staf rumah sakit akan kegiatan tersebut. Juga buku apa yang selalu menemani saya itu.

‘Apakah Al-Qur’an itu?’ tanya seorang suster. Saya jawab sesederhana mungkin ‘ini adalah surat dari Tuhan’

Suster itu tersenyum seperti menyukai jawaba yang saya berikan.

‘Ah, begitu ya. Saya kira kamu sedang menyanyikan lagu untuk ibumu. Buat saya, cara kamu membaca Al-Qur’an terdengar seperti nada lagu yang menyembuhkan.’

Berkat pengertian dari para suster ini pula, akhirnya ponsel yang menjadi sarana tilawah itu diperbolehkan tetap menyala saat berada di dalam ruang ICU dan CCU. Tentu dengan catatan harus menggunakan airplane mode.

Kondisi pasien yang terus membaik ini adalah berkat doa kalian’ ucap Suster Kepala di lain kesempatan” (hal 137-139).

Apa yang Arie kemukakan dalam buku ini menjadi sebuah catatan tersendiri mengenai masyarakat Jepang yang dikenal disiplin dan pekerja keras. Ada sisi humanis yang tetap dijunjung tinggi di tengah-tengah gempuran modernisasi di sana sini. Setidaknya toleransi yang Arie rasakan dapat membuka wawasan kita tentang pemahaman orang Jepang terhadap seorang muslimah.

Lain Arie, lain lagi dengan cerita Alfi yang menjalani kehidupan sebagai seorang muslimah di Perancis. Dalam buku ini Alfi menuturkan tentang masa-masa awal dia menetap di Perancis yang diakuinya tidak mudah, Alfi pernah mendapatkan teguran untuk melepaskan hijabnya ketika mengantre check in pesawat.

You have to take off your headscarf there.’ Demikian sebuah teguran seorang penumpang ketika Alfi hendak menuju Perancis. Namun Alfi bergeming, dan akhirnya mendapati bahwa penduduk di Kota Cote d’Azur, kota kecil di Perancis – tempat Alfi menetap, memiliki toleransi yang cukup baik. Termasuk menghargai busana yang dikenakan Alfi.

Selain Arie dan Alfi, masih ada enam perempuan lainnya yang menceritakan pengalaman dan kisahnya di Buku ini. Anne misalnya, yang menceritakan pengalamannya tinggal di Madrid, dan menjalani puasa Ramadhan selama 18 jam sehari ketika tinggal di kota tersebut. Ada juga Irene yang menceritakan pengalamannya dalam urusan makanan halal di Bangkok. Fina di Korea yang menceritakan betapa rendang dapat menjadi pintu pembuka hubungan baik antara muslimah Indonesia dengan penduduk lokal negeri gingseng tersebut.

Banyak cerita yang dikisahkan, banyak pelajaran yang bisa diambil. Setidaknya itulah kesan saya setelah membaca buku yang diterbitkan oleh Gramedia tersebut. Dengan membaca buku ini, setidaknya saya mengetahui bahwa menjalani keyakinan di negeri orang, tidak sesulit yang dibayangkan selama kita menghargai kearifan lokal setempat.

Saya kira, buku ini bisa menjadi salah satu pengisi lemari koleksi buku anda. Untuk mendapatkannya, anda bisa mencarinya di toko buku Gramedia. Atau mau order langsung ke penulisnya? Bisa kok. Tinggalkan saja komentar pada kolom komentar. Nanti saya teruskan ke penulisnya.

buku Meniti Cahaya
Buku Meniti Cahaya (doc.HS2015)

Salam (HS).

Bdg,02102015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s