Jangan Kasih Contoh Buruk Buatku, Bu….

Kemarin, salah seorang anak tetangga saya terlihat sedang bermain di depan rumahnya. Sungguh sebuah hal biasa jika seorang anak balita bermain di depan rumah, sembari berjemur. Semua orang pasti akan memakluminya. Biasa banget. Namun yang tidak biasa adalah pemandangan yang saya lihat. Sang anak memegang sesuatu yang seharusnya tidak dia pegang. Bahkan dia memperagakan seolah-olah sedang menghirup benda tersebut. Dan benda itu adalah SEBATANG ROKOK!

Anak balita perempuan yang kemungkinan baru berusia tiga tahunan itu terlihat menghisap batang rokok tanpa api. Sungguh pemandangan yang menyesakkan ketika melihat anak-anak harus meniru perilaku orang dewasa yang tidak patut mereka contoh. Benar, saya yakin se yakin-yakinnya bahwa apa yang dia lakukan itu adalah meniru orang dewasa di sekelilingnya. Dan menurut informasi dari kakak saya, rupanya pengasuh dari anak perempuan balita itu adalah perempuan perokok. Anak tersebut sangat sering berada dibawah pengasuhan perempuan perokok yang tak lain adalah neneknya tersebut. sang nenek tak segan-segan menghabiskan beberapa batang rokok ketika sedang mengasuh.

Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan si nenek yang masih berdandan layaknya ibu-ibu muda tersebut. Merokok adalah hak dia. Saya tidak anti terhadap perempuan perokok, termasuk kepada nenek tersebut. namun yang saya sayangkan adalah perilaku nenek tersebut sudah mencemari perilaku cucunya yang masih polos putih bersih.  Sayang sekali kepolosan si anak harus meniru sesuatu yang tidak layak dia lihat.

-hs-

jangan beri mereka contoh perilaku yang negatif - dok.HS (ilustrasi: keponakan saya sendiri)

Usia balita merupakan usia dimana seorang anak mulai meniru apa yang ada di lingkungannya. Dan biasanya beberapa hal besar  akan terekam di benak anak balita tersebut hingga dia dewasa. Saya bukan ahli psikologi anak, tapi setidaknya berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami, beberapa hal yang tampak sepele menurut orang dewasa, justru terekam di benak saya hingga saya seumur sekarang dan sebagian dari itu justru membawa dampak negatif.

Menurut referensi yang saya baca ada tujuh sumber bagi seseorang yang akan mempengaruhi pikirannya, yaitu:

  1. Orang tua
  2. Keluarga
  3. Masyarakat
  4. Sekolah
  5. Teman
  6. Informasi
  7. Diri sendiri

(sumber: Ibrahim Elfiky ; terapi berpikir positif, 2009)

Ketujuh sumber tersebut dapat memberikan kontribusi baik positif maupun negatif dalam pembentukan pola pikir seseorang. Apalagi bagi seorang anak, dimana mereka sedang berada pada fase meniru, sudah pasti dua sumber pertama lah yang akan melekat kuat dalam ingatannya. Dalam referensi yang saya cantumkan tersebut, tertulis bahwa dari orang tualah, seorang anak, akan belajar. Mereka meniru kata-kata, ekspresi, wajah, gerakan tubuh, perilaku, norma, keyakinan agama, prinsip, dan nilai-nilai luhur. (sumber: Ibrahim Elfiky ; terapi berpikir positif, 2009)

Dalam referensi lain yang saya baca, ternyata pada usia balita, perkembangan IQ-nya mencapai 50%. Segala macam informasi yang dia terima pada usia ini akan membawa dampak di kemudian hari.  Dan di usia tersebut, seorang anak dapat dikatakan sebagai peniru ulung. Itu bisa terjadi karena memang pada usia balita, yang sering disebut juga golden age, seorang anak sedang berada pada fase penyerapan informasi. Apa yang dia lihat, dengar, alami, rasakan, dia serap 100%. Pada masa-masa ini, perkembangan otak seorang anak sedang mencapai tahap maksimal.

Disinilah orang tua memiliki peran besar dalam mendidik dan mengembangkan potensi serta kecerdasan anak.  Makanya, sayang sekali kan, ketika harus ada sesuatu yang dilihat anak-anak dan itu tidak layak untuk menjadi pengalaman mereka.

Untuk kasus anak tetangga saya itu, dia meniru apa yang dia lihat dalam kesehariannya. Dalam hal ini dia meniru perilaku sang nenek yang merokok di hadapannya. Sungguh disayangkan, perilaku sang nenek yang dia tiru itu merupakan perilaku negatif. Mudah-mudahan saja, kelak ketika dia dewasa, dia tidak menjiplak sang nenek.

Dunia anak adalah dunia yang cerah ceria. Penuh kepolosan. Jangan nodai dunia mereka dengan perilaku negatif yang bisa membawa mereka kepada hal-hal negatif di kemudian hari.

Jadi, mari kita jaga perilaku kita sebagai manusia dewasa ketika berhadapan dengan anak-anak. Jangan sampai anak-anak itu meniru sesuatu yang negatif, karena  itu kemungkinan akan menjadi hal yang dia ingat hingga dia dewasa. Anak-anak itu polos, anak-anak itu putih. Jangan kita cemari dengan hal-hal negatif yang bisa merusak perkembangan masa depan mereka.

Meskipun telat, ijinkan saya berucap selamat hari anak Indonesia. Jadilah anak positif dan cerdas.(HS)

Sumber: Ibrahim Elfiky; Terapi Berfikir Positif dan link ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s