Mari, ajak masyarakat miskin untuk ikut ber-KB

Siang ini, 9 Juli 2011, saya membaca sebuah reportase di www.kompas.com tentang nasib seorang Ibu yang hidup dalam sebuah gubuk berukuran 2×3 meter persegi bersama 6 orang anaknya. Ibu yang menyandang status janda pasca bercerai dengan suaminya ini harus menjadi penyangga keluarga dengan membanting tulang menghidupi keenam putera putrinya.

Dalam reportase tersebut, Ibu yang bernama Darmawati ini mengaku berjuang menghidupi anak-anaknya pasca ditinggal kawin suami bersama istri mudanya. Darmawati bekerja serabutan sebagai buruh tani rumput laut. Seharian bekerja mengikat bibit rumput laut, Darmawati hanya memperoleh upah Rp. 10.000,- saja, dan dengan penghasilannya itu Darmawati harus membiayai 6 buah hatinya.

Memang banyak tetangganya yang berempati terhadap keluarga Darmawati yang tinggal di kabupaten Polewali Mandar – Sulawesi Barat ini. Namun, rasanya tidak mungkin Darmawati akan terus-terusan bergantung pada empati orang, sedangkan penghasilannya sendiri tidak memadai untuk membiayai kebutuhan anak-anaknya.

Menilik kasus ini, ada tiga hal yang saya lihat sebagai sudut pandang. Pertama, kemiskinan. Kedua, suami yang tidak tahu diri. Dan ketiga, Kenapa dulu (ketika masih bersuami), Darmawati tidak ikut ber-KB.

foto ilustrasi dari http://www.kompas.com

Jika dilihat dari sudut pandang pertama, memang ini adalah PR pemerintah untuk memberikan kehidupan dan penghidupan yang layak bagi rakyatnya. Disaat para elit pejabat di ibukota rusuh dengan surat palsu, pencarian Nazarudin, pembentukan citra diri dan citra partai demi keutuhan singgasana kepemimpinan, justru rakyat di sebagian daerah harus berjuang keras melawan kemiskinan yang sangat menyengsarakan. Saya yakin, ada banyak Darmawati-darmawati lainnya di seluruh Indonesia yang harus berjuang melawan kerasnya kemiskinan yang melilit hidup dan keseharian keluarga mereka. Sudah saatnya pemerintah kembali FOKUS pada pembangunan rakyat.

Memang, tidak dipungkiri, beberapa program pengentasan kemiskinan sudah bergulir. Contohnya adalah program PNPM, PKH (Program Keluarga Harapan), KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang ditujukan untuk pengusaha kecil, namun rupanya belum cukup menjangkau masyarakat miskin di pelosok negeri ini. Sekali lagi, ini masih menjadi PR bagi pemerintah negeri ini untuk kembali fokus mengentaskan kemiskinan rakyat negeri ini.

Menilik sudut pandang kedua, suami yang tidak tahu diri. Ini menjadi pelajaran bagi siapapun, baik perempuan maupun pria yang sudah berkeluarga. Bagi kaum pria, alangkah lebih elok, ketika istri anda sudah memberikan keturunan lebih dari cukup anda, untuk tidak memikirkan mempunyai istri baru. Kenapa? Karena anak adalah titipan Tuhan yang harus dididik dan dibesarkan oleh kedua belah pihak (suami dan juga istri). Perselisihan yang terjadi dalam rumah tangga janganlah dijadikan acuan untuk berpisah dan akhirnya menelantarkan anak. Sudah banyak kasus seperti itu, ujung-ujungnya, anaklah yang menjadi korban.

Jangan mencari-cari alasan untuk menceraikan istri karena bagaimanapun, seorang perempuan yang sudah memberikan keturunan (melahirkan) itu sudah bertaruh nyawa demi menyambung garis keturunan anda, para pria. Rasanya sungguh memalukan sekali ketika salah satu dari kami, kaum pria, mengajukan talak cerai kepada istrinya dengan alasan yang mengada-ada.

Ini juga pelajaran bagi kaum perempuan bahwa dalam memilih jodoh, harus dilihat bibit bebet bobotnya. Sebelum menikah, anda harus mengenali bagaimana keluarga dari calon suami anda.

Ingat, sebaiknya menghindari perkawinan di usia yang masih teramat belia. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa kawin muda ini sangat beresiko sekali. Dari sisi emosi, menikah di usia muda tidak dianjurkan karena kedua pihak belum memiliki kematangan emosi yang cukup stabil. Ini akan mempengaruhi cara kedua pasangan dalam mengambil keputusan ketika berumah tangga.  Jangan sampai, kelak ketika sudah menikah dan dikaruniai anak, tiba-tiba keluarga menjadi hancur berantakan karena satu dan lain hal. Ini akan sangat merepotkan anda, baik pihak pria maupun perempuan.

Jika saat ini anda punya anak perempuan yang sudah beranjak remaja, jangan pernah anda memikirkan agar mereka segera menikah begitu tamat pendidikan SMA. Tidak dianjurkan karena di usia muda seperti itu, faktor emosi yang belum stabil biasanya akan menjadi pemicu kehancuran rumah tangga. Jika sudah hancur, maka sekali lagi, anaklah yang akan menjadi korban.

Ketiga, KB. Saya sedikit menyayangkan pada kasus Darmawati ini. andai saja sewaktu masih berpasangan dengan suaminya, Darmawati menyetop kelahiran dengan mengikuti program KB, maka kemungkinan untuk hidup seperti sekarang akan lebih kecil. Meskipun, katakanlah takdir mengharuskan Darmawati bercerai, mungkin beban hidupnya tidak akan seberat sekarang karena anak yang dilahirkan jika Darmawati ber-KB, tidak akan sebanyak sekarang.

saya sedikit menekankan bahwa disinilah pentingnya program KB bagi masyarakat. Disadari atau tidak, program KB akan berimbas pada kelangsungan kehidupan yang dialami oleh warga masyarakat.

Memang, secara kasat mata, KB itu tidak akan terlihat secara nyata. Namun, yakinlah bahwa ketika satu keluarga memutuskan untuk ber-KB, maka kemungkinan besar keluarga tersebut berkembang menjadi keluarga yang sejahtera akan lebih terbuka. KB adalah program pemerintah yang efeknya tidak langsung terasa seperti halnya BLT atau raskin. Sepuluh atau duapuluh tahun kemudian program KB akan terasa dampaknya bagi keluarga di Indonesia ini.

Disini saya mengajak kepada anda yang sudah melek pengetahuan dan pendidikan untuk mengajak dan mengingatkan tetangga-tetangga anda, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu dan berpendidikan rendah, agar mengikuti program keluarga berencana yang digulirkan pemerintah melalui BKKBN. Dengan ber-KB, maka kemungkinan terlilit kemiskinan abadi setidaknya bisa diminimalisir.

Mari, ajak masyarakat miskin untuk ikut ber-KB. (HS)

Iklan

2 thoughts on “Mari, ajak masyarakat miskin untuk ikut ber-KB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s