Pernikahan Dini? Jangan Dulu Lah…

 

jangan sampai "bunga" anak anda dipetik sebelum waktunya - HS.2010

 

Kepada yang sudah niat untuk nikah dini,istikharah dululah,Nak! Pernikahan hanya sekali seumur hidup,bayangkan 20-40 tahun mendatang,bagaimana tampang dan karakter pasangan kita akan berubah!

Itu adalah status facebook Bunda Pipiet Senja. Seorang novelis religi senior yang saya kenal melalui media blog kompasiana. Bunda Pipiet menuliskan kegelisahannya pada kecenderungan kaum muda yang menginginkan pernikahan dini.

Saya sengaja meng-kopi-kan untuk saya jadikan sumber tulisan saya. Apa sebab? Karena ini ada relevansinya dengan program dari tempat saya bekerja untuk mencegah pernikahan dini.  Oya, dini disini bisa diartikan masih di bawah 20 tahun untuk perempuan, dan di bawah 25 tahun bagi laki-laki.

Kenapa kantor saya tidak menghendaki adanya pernikahan dini?

Sebagai kantor yang bergerak dalam bidang keluarga dan kependudukan, kantor saya mempunyai program bernama PUP. Jorok…?!?! Tidak. PUP itu kependekan dari Pendewasaan Usia Perkawinan. Program ini bertujuan untuk menunda usia perkawinan agar tidak terjadi pernikahan dini atau pernikahan yang tidak dipersiapkan. Menunda usia perkawinan hingga usia ideal, menjadi salah satu program yang sedang digalakan oleh kantor tempat saya mencari nafkah. Dan sasarannya adalah kaum remaja. Hal ini menjadi perlu supaya di kemudian hari, seorang perempuan tidak melahirkan anak terlalu banyak.

Concern dengan program keluarga dan pembinaannya, rupanya kantor saya juga berkonsentrasi untuk memberikan perhatian terhadap generasi muda. Salah satunya dengan program PUP ini. Belakangan, di TV swasta sering diiklankan. Namanya Genre, yang merupakan akronim dari Generasi Berencana. Saya kutip dari website BKKBN, Genre itu adalah generasi yang merencanakan masa depannya dengan baik melalui studi, bekerja, menikah dan seterusnya, sesuai siklus kesehatan reproduksi. Nah Genre ini adalah salah satu kampanye BKKBN untuk mengajak kaum muda agar merencanakan masa depannya dengan menghindari pernikahan dini.

Memang apa jadinya kalau nikah dini?

Dalam sebuah penyuluhan di salah satu rumah sakit, saya bertemu dengan seorang pasien post partum yang baru berusia 15 tahun. Ibu muda ini terlihat sangat kelelahan sekali. Mungkin karena proses melahirkan yang sangat memakan tenaga. Dengan agak sedikit tertatih-tatih dia mengikuti penyuluhan yang kami berikan.

Lima belas tahun. Usia yang masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu. Bayangkan, di usia remaja seperti itu, pasien tersebut harus sudah mengasuh dan membesarkan anak? Apa jadinya jika anda mempunyai anak seumuran itu dan sudah harus menimang cucu darinya?

Idealnya, usia remaja seperti itu adalah usia di mana seseorang masih giat-giatnya menimba pengetahuan. Usia dimana seorang perempuan baru saja mengalami masa-masa pubertas. Usia dimana seorang perempuan sedang mengalami perkembangan secara fisik dan psikis menjadi seorang perempuan.

Jika di usia 15 tersebut  sudah harus menikah, katakanlah si remaja tersebut belum bisa mengurus rumah tangga. Kebutuhan akan bersosialisasi di usia segitu itu masih tinggi. Maka mungkin dia akan lebih menyukai bermain ketimbang mengurus anaknya. Jika sudah demikian, maka akan terjadi lingkaran hal yang sama pada anaknya. Tak terurus, tak terperhatikan, dan pada akhirnya tak berkualitas. Hal lainnya, kemungkinan rumah tangga si remaja tersebut akan berantakan. Kasihan kan?

Selain itu, usia remaja adalah usia dimana fisik seorang perempuan sedang mengalami perkembangan. Konon katanya kondisi rahim di usia tersebut belum stabil jika diisi oleh janin. Maka kemungkinan besar, jika hamil, akan mengalami keguguran.

-hs-

Nah nah, melalui tulisan ini, saya mencolek anda para pembaca untuk ikut perduli juga. Jika ada remaja yang berasal dari keluarga yang berpengetahuan kurang, yang disuruh segera menikah dini, cobalah anda turut memberikan wawasan juga kepada mereka tentang baik buruknya menikah dini.

Berikanlah mereka pengetahuan bahwa menikah dini itu tidak dianjurkan, karena akan mempengaruhi perkembangan fisik dan psikis anak remajanya.

Dengan lebih perduli, berarti anda turut berkontribusi dalam pembangunan manusia Indonesia menjadi lebih berkualitas. (HS)

Kakimanangel – when Friday become free day. 15102010

Iklan

2 thoughts on “Pernikahan Dini? Jangan Dulu Lah…

  1. menikah dini artinya memilih sebuah kehidupan yang penuh resiko baik kehamilan, persalinan maupun dalam kematangan dalam menciptakan sebuah keluarga….saya yakin tidak satupun mau apabila diberi kesempatan untuk memilih… jaga diri jangan sampai tidak bisa memilih, artinya terpaksa nikah dini karena hamil pra nikah…. karena menyesal kemudian tak berguna

    1. Betul bu Dwi. menikah dini memang tidak dianjurkan baik dari sisi psikis maupun medis. secara psikis, usia remaja adalah usia dmn seorang manusia sedang mengeksplorasi segala jenis keingintahuannya. dan secara medis, jika terjadi kehamilan di usia yang masih belia, akan sangat rentan dan beresiko.
      trims bu Dwi berkenan mampir di blog saya ini.
      salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s