Pahlawan Tanpa Tanda Jasa II

Siapapun pasti akan menjadikan orang tua dan gurunya sebagai pahlawan. The real superheroes. Pahlawan sejati bagi diri kita yang telah menjadikan kita sebagai manusia berguna. Orang tua yang memberikan pendidikan dan membesarkan kita, juga memperrkenalkan kita dengan segala pernik kehidupan. Juga Guru yang telah membuat kita bisa membaca dan menulis, modal awal untuk ngeblog.

Meskipun kita mengenal guru dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa, namun tetap jasa para guru tiada terkira. Wajar sekali jika kita menempatkan guru sebagai pahlawan di hati dan diri kita. sebutan itupun melekat pada profesi guru di negeri ini. Tapi tahukah anda bahwa ada sosok pahlawan tanpa tanda jasa lainnya yang tidak dikenal? Bahkan mungkin dilirik sebelah mata pun tidak. Pahlawan yang telah memberikan kontribusi lain pada pembangunan manusia di Indonesia. Ya, merekalah pahlawan Keluarga Berencana.

Saya bukan ingin mengangkat apa yang menjadi bidang pekerjaan saya saat ini, namun hanya ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa mereka lah yang telah memberi sumbangsih besar pada pembangunan Indonesia di masa lalu. Dan kini, jasa-jasa mereka sudah dilupakan begitu saja seiring cepatnya perubahan paradigma pembangunan negeri ini.

Adalah Ibu Aan Nurhasanah, salah satu senior saya di kantor, yang telah menceritakan pengalaman pribadinya sebagai tenaga lapangan di sektor pengendalian penduduk ini. Dia menceritakan bagaimana awal mula dia memperkenalkan produk pengendalian penduduk bernama KB. Sungguh heroik di mata saya. Beberapa kali dia cerita hal yang sama, saya selalu tertegun. Betapa luar biasa perjuangannya untuk membuat program ini sukses.

“Zaman dulu, Tahun 70-an, awal-awal ada program KB, ibu sampai dikejar-kejar warga. Dianggap tukang bunuh anak. Bahkan sampai diacungi golok. Hanya karena mereka tidak mengerti apa itu KB.” Demikian Ibu Aan, salah satu petugas KB senior di kantor saya berkisah pada suatu meeting mingguan yang pernah kami laksanakan.

“Itu sudah jadi hal yang biasa. Malah kadang, kita berhari-hari berada di lapangan sebelum dimulai pelayanan. Kita mengadvokasi tokoh-tokoh masyarakat di satu hari, kemudian memberikan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakatnya sendiri, berdampingan dengan sang tokoh yang sudah di advokasi pada hari lainnya.”

“Kemudian, kalau mau ada pelayanan KB, ibu sampai harus berjalan kaki ke kampung-kampung. Menyusuri pematang sawah untuk mencapai rumah warga yang berada di pelosok. Kemudian membujuk warga agar mau di KB. Bahkan tak jarang ibu harus menginap di rumah warga. Dan keesokan harinya, kami berangkat ngabring 1) ke tempat pelayanan.” Begitu lanjutnya.

Ibu Aan - salah satu pahlawan tanpa tanda jasa itu

Sungguh, sebuah kisah yang heroik bagi saya. Seorang perempuan yang bahkan rela mengesampingkan perhatian terhadap suami dan anaknya demi keberhasilan program pemerintah saat itu.

Kini bu Aan sudah hampir memasuki masa pensiun. Program KB sempat mendulang sukses di era Suharto. Mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Bapak Haryono Suyono. Bu Aan tidak perlu lagi harus menerjang bahaya karena kini warga masyarakat generasi ke dua sudah memahami dan mengerti arti pentingnya KB bagi pembangunan keluarga.

-hs-

Sejarah mencatat bahwa perkembangan penduduk Indonesia akan mengalami ledakan jika tidak ada pengendalian. Data berbicara, jika tidak ada program Birth Control, Negeri ini akan menjelma menjadi negeri yang kaya akan jumlah penduduk. Lebih banyak dari jumlah penduduk yang tercatat saat ini. Tertulis dalam sebuah prediksi bahwa jika tidak ada program tersebut, 110 juta jiwa penduduk negeri ini di tahun 70-an akan berbiak menjadi sekitar 282 juta jiwa pada era 2000-an. Namun itu dapat ditekan menjadi sekitar 200-an juta jiwa pada tahun 2000-an tersebut. Menghemat sekitar 82 juta jiwa melalui program birth control ini. Dan kini, sekitar 240 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia. Padahal program KB sudah dilaksanakan. Petugas-petugas penyuluh KB masih memberikan informasi dan pengetahuan bagi setiap pasangan usia subur yang membutuhkan informasi. Anda bayangkan jika tidak ada petugas penyuluh dan tidak ada program KB? Berapa ratus juta jiwa penduduk di Indonesia?

Abstrak. Saya yakin itu. Anda tidak akan peduli karena apa yang sudah diperjuangkan para pahlawan KB ini tidak tampak nyata di mata kita semua. Bahkan mungkin di mata seseorang yang duduk di singgasana istana sana. Mengapa demikian? Ya, karena memang tidak terlihat secara nyata seperti apa perjuangan berat mereka. Yaitu berhasil menurunkan angka penduduk Indonesia sebanyak 82 juta jiwa itu.

Saya coba ajak anda membuka mata pikiran. Bayangkan. Saat ini, penduduk negeri kita sudah mencapai angka 240 juta jiwa. Keadaan ekonomi bangsa ini masih dikategorikan labil. Hutang luar negeri menumpuk. Warga miskin membludak. Anak putus sekolah tak terhitung meski program pemerintah gembar-gembor sekolah gratis. Angka pengangguran kian naik drastis dari tahun ke tahun. Fasilitas pendidikan banyak terabai, fasilitas dan sarana lalu lintas banyak tak terurus. Subsidi untuk rakyat tak sepenuhnya terbayarkan. Itu dengan jumlah penduduk yang tertahankan sebanyak 82 juta jiwa atau bahkan mungkin lebih. Apalagi jika tidak ada program pengendalian penduduk macam KB. Anda bisa bayangkan, akan makin berlipat masalah yang hadir di negeri ini. Sementara pemerintah masih “begini-begini saja”.

Akan makin besar dana pemerintah untuk anggaran pendidikan. Akan makin membengkak dana pemerintah untuk anggaran subsidi rakyat. Akan makin menggeliat anggaran untuk membiayai sektor-sektor pembangunan, karena manusia penghuni negeri ini sangat banyak sekali jumlahnya. Dengan pemerintahan seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin hutang luar negeri kita akan sangat-sangat membludak. Sekali lagi, Itu jika tidak ada program KB.

Beruntung program KB hadir di negeri ini. Dan sudah sewajarnya pemerintah berterima kasih untuk para pejuang sejati yang memperkenalkan program ini selama hampir 40 tahun. Mereka mengajak masyarakat untuk sadar bahwa ada yang lebih penting dari sekedar punya anak banyak. Ada tugas yang lebih berat dari sekedar hanya melahirkan. Yaitu mengurus dan mendidik anak supaya menjadi manusia Indonesia yang berkualitas. Meski semua serba tidak enak. Mempertaruhkan harga diri bahkan nyawa, mereka tetap melaksanakan tugasnya hingga berhasil menekan itu.

Tayangan kick andy pernah membahas para pejuang ini pada 9 juli 2010. Ada banyak ibu Aan lainnya di seluruh Indonesia yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk kebangkitan pembangunan negeri ini. bekerja penuh perjuangan meski tak ditoleh sedikitpun oleh pemerintah di masa kini padahal kontribusi untuk negeri ini sungguh besar. Ada dr. Luh Putu Upadisari dari Bali yang praktik di pasar Badung Bali demi menjemput bola melaksanakan program KB langsung terhadap sasaran. Atau Bapak Dedi Heryadi dari Tasikmalaya yang memilih untuk mengabdikan hidupnya menjadi tenaga penyuluh KB karena trauma dengan kesulitan kelahiran istrinya. Ia tidak ingin kejadian yang menimpa istrinya, menimpa kembali orang lain. Cerita serupa Ibu Aan datang dari Ibu Dalinem di daerah Prambanan Yogyakarta. Perempuan yang memasuki masa tua itu sungguh berjasa bagi pembangunan di Yogya sana. Pada tahun 1971, dia rela keluar masuk kampung mengajak warga lain untuk ikut KB padahal dia tidak dibayar. Dia rela mendapat cibiran dan cemoohan dari warga, hanya demi mengajak warga tersebut ikut KB.

Inilah saatnya pemerintah kembali membuka mata terhadap program KB dan memperhatikan kesejahteraan para petugasnya supaya program ini dapat kembali berjalan, bukan setengah hati seperti sekarang ini. Mengingat kontribusinya untuk negeri tak terhitung lagi. Sekarang jumlah jiwa negeri kita 240 juta jiwa. Apa jadinya jika penduduk tak lagi terkendali, sedangkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan stagnan seperti ini?

Kepada yang dihormati bapak Presiden, saatnya konsentrasi anda untuk rakyat dan para petugas pengendalian kependudukan tersebut. Perhatikan kesejahteraan mereka niscaya program ini akan menuai sukses lagi. Karena selain para guru, inilah real superheroes untuk negeri ini. Pahlawan tanpa tanda jasa dua. Petugas Penyuluh KB di seluruh pelosok negeri. (HS)

Kakimanangel, 20agustus2010

Didedikasikan untuk para petugas penyuluh di manapun anda berada.

1) ngabring: berangkat bersama ramai-ramai

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s